Selasa, 02 Juni 2015

[059] Al Hasyr Ayat 001


««•»»
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
««•»»
bismi allaahi alrrahmaani alrrahiimi
««•»»
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

««•»»
In the Name of Allah, the All-beneficent, the All-merciful.

««•»»

Surah Al Hasyr 1

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
««•»»
sabbaha lillaahi maa fii alssamaawaati wamaa fii al-ardhi wahuwa al'aziizu alhakiimu
««•»»
telah bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
««•»»
Whatever there is in the heavens glorifies Allah and whatever there is in the earth, and He is the All-mighty, the All-wise.
««•»»

Ayat ini menerangkan bahwa telah bertasbih kepada Allah SWT dan mengagungkan-Nya segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi, dengan menyucikan-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya baik dengan ucapan, perbuatan maupun dengan pernyataan hati sanubarinya.

Ayat yang lain sama maksudnya dengan ayat ini Allah berfirman:
تسبح له السموات السبع والأرض ومن فيهن وإن من شيء إلا يسبح بحمده ولكن لا تفقهون تسبيحهم إنه كان حليما غفورا
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan-tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.
(QS. Al Israa' [17]:44)

Dari ayat pertama ini dipahami bahwa seluruh makhluk Allah yang di langit dan di bumi, baik berupa makhluk hidup, seperti manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya, maupun makhluk mati seperti batu. air, udara, planet, sungai-sungai dan sebagainya, bertasbih kepada-Nya. Masing-masing bertasbih menurut keadaan dan kejadiannya.

Jika diperhatikan seluruh makluk Allah yang ada, akan diketahui bahwa tiap-tiap makhluk itu tunduk kepada hukum dan ketetapan yang telah ditentukan baginya, seakan-akan makhluk-makhluk itu tidak sanggup melepaskan diri dari hukum dan ketetapan itu. Jika ia melanggar hukum dan ketetapan itu, niscaya ia akan rusak atau hancur.

Sebagai contoh ialah hukum air yang mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Air hujan yang turun dari langit menimpa daerah pegunungan, akan tertahan alirannya jika ada yang menahannya. Yang menahannya ialah tumbuh-tumbuhan yang tumbuh dengan subur di pegunungan. Dengan adanya tumbuh-tumbuhan, maka air akan masuk ke dalam, tanah melalui akar tumbuh-tumbuhan itu, sehingga air hujan itu tidak langsung mengalir ke tempat yang rendah, tetapi alirannya itu seakan-akan diatur sedemikian rupa sehingga dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk minum, pertanian dan sebagainya. Jika suatu daerah pegunungan adalah suatu daerah yang tandus, maka air hujan itu tidak ada yang menahannya tetapi langsung mengalir ke tempat yang rendah menuju ke laut, sehingga air hujan itu tidak dapat dimanfaatkan manusia, bahkan dapat merusak manusia dengan adanya bahaya banjir dan kekeringan musim kemarau. Dalam hal ini air tunduk kepada hukum dan ketetapan yang ditetapkan Allah. Tidak seorang pun yang dapat mengingkari hukum dan ketetapan itu, termasuk manusia sendiri. Jika manusia memusnahkan hutan, maka bahayanya langsung menimpa mereka, sebaliknya jika mereka memeliharanya dengan baik, maka manfaatnya langsung pula mereka terima.

Banyak lagi contoh yang lain, yang menunjukkan bahwa seluruh makhluk wajib tunduk dan patuh kepada hukum Allah, seperti hukum daya tarik bumi, hukum yang berlaku bagi manusia, yaitu barang siapa yang rajin ia akan berhasil, dan barang siapa yang pemalas ia tidak akan berhasil. Semua manusia harus tunduk kepada hukum ini. Mengikuti hukum dan ketetapan Allah dengan sebaik-baiknya itu berarti bertasbih kepada-Nya.

Sebagaimana telah diterangkan pada ayat-ayat yang lalu bahwa hukum Allah itu berupa sunatulah, yaitu hukum yang berlaku di alam ini, dan syariat yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Manusia wajib tunduk dan patuh kepada sunatullah dan kepada syariat Allah, sedangkan makhluk-makhluk yang lain harus tunduk kepada sunatullah. Manusia Yang tunduk kepada kedua hukum Allah itu adalah manusia yang berbahagia hidupnya di dunia dan di akhirat

Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa Allah SWT Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Maksudnya ialah bahwa Allah Pencipta semesta alam adalah Zat Maha Perkasa, tidak ada sesuatupun yang dapat melanggar hukum dan ketetapan-ketetapan-Nya. Barangsiapa yang menentang dan melanggarnya akan merasakan akibatnya baik secara langsung atau tidak. Seandainya di dunia mereka belum merasakan dan menerima akibatnya, di akhirat pasti akan merasakannya. Dia-lah yang menciptakan segala sesuatu dan dalam menciptakan segala sesuatu itu, Dia mengetahui dengan pasti faedah dan kegunaannya. Dia mengetahui dengan pasti sebab sesuatu diciptakan dan mengetahui dengan pasti pula akibat-akibat yang akan ditimbulkan ciptaan-Nya itu, baik akibatnya itu besar atan kecil.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi) semuanya memahasucikan-Nya. Huruf lam pada lafal lillaahi adalah zaidah; ungkapan dengan memakai lafal maa, karena lebih memprioritaskan makhluk yang tidak berakal yang jumlahnya lebih banyak (dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana) di dalam kerajaan-Nya dan dalam perbuatan-Nya.
««•»»
All that is in the heavens and all that is in the earth glorifies God, that is to say, [all that is in them] exalts Him as being transcendent (the lām [of li’Llāhi, ‘God’] is extra; the use of mā [instead of the personal min] is meant to indicate a predominance [of non-rational beings in the heavens and the earth]). And He is the Mighty, the Wise, in His kingdom and [in] His actions [respectively].

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

Imam Bukhari dan lain-lainnya mengetengahkan sebuah hadis yang bersumber dari Ibnu Umar r.a., bahwasanya Rasulullah saw. membakar pohon-pohon kurma milik orang-orang Bani Nadhir dan menebangi pohon-pohon kurma yang ada di lembah Al-Buwairah, maka Allah menurunkan firman-Nya, "Apa saja yang kalian tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kalian biarkan (tumbuh)..."

(Q.S. Al-Hasyr 5)
Abu Ya'la mengetengahkan sebuah hadis dengan sanad yang dhaif (lemah) melalui Jabir r.a. yang telah menceritakan, bahwa Rasulullah saw. memberikan kemudahan bagi kaum muslimin, yaitu boleh menebang pohon-pohon kurma, kemudian dia melarang hal tersebut. Lalu mereka datang menghadap Nabi saw. seraya berkata, "Wahai Rasulullah! Apakah kami berdosa mengenai pohon-pohon yang telah kami tebang atau pohon-pohon yang kami biarkan tumbuh?" Lalu Allah menurunkan firman-Nya, "Apa saja yang kalian tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kalian biarkan (tumbuh)..."
(Q.S. Al-Hasyr 5)
Ibnu Ishak mengetengahkan sebuah hadis melalui Yazid bin Rauman yang menceritakan, bahwa sewaktu Rasulullah saw. turun menyerang Bani Nadhir, maka orang-orang Bani Nadhir berlindung ke dalam benteng-benteng mereka dari serangannya. Lalu Rasulullah saw. memerintahkan kaum muslimin supaya menebangi dan membakar pohon-pohon kurma mereka yang ada di tempat itu juga. Maka orang-orang Bani Nadhir berseru, "Hai Muhammad! Sesungguhnya engkau telah melarang manusia melakukan perusakan dan engkau mencela perbuatan itu. Apakah artinya penebangan dan pembakaran pohon-pohon kurma itu?" Lalu turunlah ayat ini.
Hadis serupa diketengahkan pula oleh Imam Ibnu Jarir melalui Qatadah dan Mujahid.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 2]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
1of24
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=58&tAyahNo=1&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#59:1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar