Selasa, 02 Juni 2015

[059] Al Hasyr Ayat 002


««•»»
Surah Al Hasyr 2

هُوَ الَّذِي أَخْرَجَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ دِيَارِهِمْ لِأَوَّلِ الْحَشْرِ مَا ظَنَنْتُمْ أَنْ يَخْرُجُوا وَظَنُّوا أَنَّهُمْ مَانِعَتُهُمْ حُصُونُهُمْ مِنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُمْ بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ
««•»»
huwa alladzii akhraja alladziina kafaruu min ahli alkitaabi min diyaarihim li-awwali alhasyri maa zhanantum an yakhrujuu wazhannuu annahum maani'atuhum hushuunuhum mina allaahi fa-ataahumu allaahu min haytsu lam yahtasibuu waqadzafa fii quluubihimu alrru'ba yukhribuuna buyuutahum bi-aydiihim wa-aydii almu/miniina fai'tabiruu yaa ulii al-abshaari
««•»»
Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama {1464}. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mu'min. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan.
{1464} Yang dimaksud dengan ahli kitab ialah orang-orang Yahudi Bani Nadhir, merekalah yang mula-mula dikumpulkan untuk diusir keluar dari Madinah.
««•»»
It is He who expelled the faithless belonging to the People of the Book from their homes at the outset of [their] en masse banishment. You did not think that they would go out, and they thought their fortresses would protect them from Allah. But Allah came at them from whence they did not reckon and He cast terror into their hearts. They demolish their houses with their own hands and the hands of the faithful. So take lesson, O you who have insight!
««•»»

Dalam ayat ini diterangkan bahwa di antara bukti keperkasaan Allah dan kebijaksanaannya ialah Dia mengusir orang Yahudi dari kota Madinah. Atas pertolongan-Nyalah kaum muslimin mengusir mereka dari tempat kediaman mereka, padahal mereka sebelumnya adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan.

Sejak sebelum lahirnya Nabi Isa a.s., orang-orang Yahudi telah berdiam di kota Madinah. Mereka terdiri atas tiga suku, yaitu suku Bani Qainuqa, suku Bani Nadir dan suku Bani Quraizah. Setelah Nabi Muhammad SAW. hijrah ke Madinah make beliau mengadakan perjanjian damai dengan ketiga suku itu. Di antara isi perjanjian damai itu ialah:
  1. Kaum muslimin dan orang-orang Yahudi sama-sama berusaha menciptakan suasana damai di kota Madinah, masing-masing mereka dibebaskan memeluk agama yang mereka anut.
  2. Kaum muslimin dan orang-orang Yahudi wajib bertolong-tolongan dan wajib memerangi setiap orang atau kabilah lain yang hendak menyerang kota Madinah.
  3. Barangsiapa di antara masing-masing mereka yang bertempat tinggal di dalam atau di luar kota Madinah, wajib dipelihara keamanannya dan harta mereka.
  4. Seandainya terjadi perselisihan atau pertentangan antara kaum muslimin dan orang-orang Yahudi, yang tidak dapat diselesaikan, make urusannya diserahkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Sekalipun telah diadakan perjanjian damai seperti diterangkan, dalam hati orang-orang Yahudi masih tertanam rasa dengki dan iri hati kepada Nabi Muhammad dan kaum muslimin. Mereka menganggap diri mereka sebagai putra dan kekasih Allah, karena itu Rasul dan kenabian itu adalah hak mereka sebagai orang Yahudi, sedangkan suku bangsa yang lain tidak berhak atas kedudukan yang diberikan Allah itu. Perasaan dengki dan iri hati mereka itu semakin bertambah setelah mereka melihat keberhasilan Muhammad menyebarkan agama Islam yang semakin hari semakin berkembang, sedangkan mereka tidak mampu menghalanginya. Sekalipun demikian mereka selalu mengintai-intai kesempatan untuk melaksanakan keinginan mereka.

Keadaan mereka itu diterangkan dalam firman Allah SWT:
ود كثير من أهل الكتاب لو يردونكم من بعد إيمانكم كفارا حسدا من عند أنفسهم من بعد ما تبين لهم الحق فاعفوا واصفحوا حتى يأتي الله بأمره إن الله على كل شيء قدير
Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka sampai Allah mendatangkan perintah Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
(QS. Al-Baqarah [2]:109)

Mula-mula mereka mencoba mematahkan Muhammad SAW. dengan cara berdebat, tetapi mereka selalu gagal dalam mematahkan alasan-alasan yang dikemukakan Rasulullah SAW. Karena itu mereka mulai menempuh cara kekerasan, provokasi dan fitnah. Mula-mula Bani Qainuqa' melanggar perjanjian damai yang telah dibuat dengan Rasulullah. Pada suata hari seorang wanita Arab muslimah masuk pasar Bani Qainuqa'. lalu mereka menganiayanya. Seorang Arab yang kebetulan sedang lewat di tempat itu mencoba membelanya, tetapi ia dikeroyok dan dipukuli sampai meninggal dunia. Perbuatan Bani Qainuqa' ini menimbulkan amarah kaum muslimin, sehingga terjadilah perkelahian antara Bani Qainuqa' dan kaum muslimin, yang menimbulkan kerugian harta dan jiwa kedua .belah pihak. Rasulullah SAW. berusaha mendamaikannya, tetapi mereka selalu mengingkarinya dan melakukan keonaran. Karena sikap mereka yang selalu menunjukkan permusuhan kepada kaum muslimin dan membahayakan keamanan kota Madinah, maka Rasulullah mengambil keputusan mengusir mereka dari kota Madinah. Peristiwa itu terjadi setelah perang Badar.

Lebih kurang setahun pengusiran Bani Qainuqa', orang-orang Yahudi Bani Nadir pun melakukan pengkhianatan pula. Mereka merencanakan pembunuhan atas diri Nabi Muhammad SAW. Percobaan pembunuhan itu mereka lakukan pada waktu Nabi dan para sahabat berkunjung ke perkampungan mereka. Tetapi rencana mereka itu gagal dan Rasulullah SAW. selamat dari percobaan pembunuhan itu.

Sehubungan dengan hal itu Allah SWT berfirman:
ياأيها الذين ءامنوا اذكروا نعمة الله عليكم إذ هم قوم أن يبسطوا إليكم أيديهم فكف أيديهم عنكم واتقوا الله وعلى الله فليتوكل المؤمنون
Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakkal.
(QS. Al-Maidah [5]:11)

Setelah Rasulullah SAW. membongkar rencana pembunuhan itu, maka beliau memutuskan untuk mengusir Bani Nadir dari kota Madinah. Pengusiran ini terjadi pada bulan Rabiulawal tahun keempat Hijriyah. Di antara mereka ada yang menetap di Syam dan Khaibar. Keputusan Rasulullah ini mereka tantang. dan secara diam-diam mereka menyusun kekuatan untuk memerangi kaum muslimin. Mereka mengadakan persekutuan dengan orang-orang musyrik Mekah dan orang munafik. Bani Quraizah yang masih tinggal dalam kota Madinah ikut pula dalam persekutuan itu. Maka Rasulullah mengepung mereka selama 25 hari. Di antara mereka ada yang dibunuh dan diusir. Dengan demikian, maka semua orang Yahudi yang dahulu tinggal di Madinah telah berpindah semua ke tempat lain, seperti di Khaibar, Syam dan negeri-negeri yang lain. Inilah yang dimaksud dengan pengusiran dalam ayat ini, yaitu pengusiran orang-orang Yahudi dari kota Madinah karena pengkhianatan mereka terhadap perjanjian yang telah mereka perbuat dengan Rasulullah SAW

Ayat ini menerangkan bahwa Allah SWT telah mengusir orang-orang Yahudi Bani Nadir dari Madinah untuk pertama kalinya dengan memberikan pertolongan kepada kaum muslimin untuk mengalahkan dan mengusir mereka itu.

Perkataan "kali yang pertama" menunjukkan bahwa ada beberapa kali terjadi pengusiran orang-orang Yahudi itu dari Madinah. Dan yang dimaksud ayat ini adalah pengusiran pertama. Pengusiran kedua ialah pengusiran orang-orang Yahudi Quraizah setelah perang Ahzab, kemudian Umar bin Khattab di waktu beliau menjadi khalifah pernah pula mengusir orang-orang Yahudi keluar Jazirah Arab.

Orang-orang yang beriman tidak mengira bahwa orang-orang Yahudi itu dapat terusir dari kota Madinah, mengingat keadaan, kekuatan, kekayaan, pengetahuan dan perlengkapan mereka. Orang-orang Yahudi yang tinggal di Madinah pada waktu itu lebih baik keadaannya dibandingkan dengan kaum Muhajirin dan kaum Ansar. Mereka banyak yang pandai tulis baca, banyak yang berilmu dan sebagainya, di samping kelihaian mereka dalam berusaha dan mengurus sesuatu. Kenyataan menunjukkan bahwa pengusiran itu terlaksana. Hal ini dapat memperkuat iman kaum muslimin dan kepercayaan mereka akan adanya pertolongan Allah.

Bani Nadir semula mengira bahwa benteng-benteng yang kokoh yang telah mereka perbuat dapat memelihara mereka dari serangan musuh-musuh mereka. Mereka percaya benar akan kekuatannya. Karena itu mereka tambah berani mengadu domba kaum muslimin, memfitnah kaum muslimin sehingga orang orang musyrik Mekah bertambah kuat rasa permusuhannya. Lalu orang Yahudi merencanakan persekutuan dengan orang-orang musyrik dan orang-orang munafik untuk memerangi kaum muslimin.

Dalam keadaan yang demikian itu tiba-tiba mereka dikalahkan oleh kaum muslimin yang mereka anggap enteng selama ini. Bahkan mereka diusir dan Madinah. Mereka hanya diperkenankan membawa barang-barang mereka sekadar yang dapat dibawa unta-unta mereka Sebagian mereka pergi ke Adriat dan sebahagian lagi pergi ke Khaibar.

Kemudian diterangkan sebab-sebab kekalahan mereka dan menerima serta tunduk kepada keputusan Rasulullah di waktu Rasulullah datang kepada mereka. Ketika itu timbullah ketakutan yang amal sangat dalam hati mereka, terutama karena tindakan Rasulullah menjatuhkan hukuman mati atas pimpinan mereka yaitu Kaab bin Asyraf dan ditambah lagi dengan tindakan orang-orang munafik yang tidak menepati janjinya terhadap mereka.

Allah SWT menerangkan keadaan orang-orang Yahudi Bani Nadir di waktu mereka akan meninggalkan Madinah dalam keadaan terusir itu. Mereka meruntuhkan rumah-rumah mereka, menutup jalan-jalan yang ada dalam perkampungan mereka, dengan maksud agar rumah itu tidak dapat dipakai kaum muslimin dan agar dapat mereka bawa peralatannya sebanyak mungkin yang dapat dibawa. Mereka meninggalkan Madinah dengan penuh rasa kemarahan dan dendam kepada kaum Muslimin, tetapi mereka tidak mau kemarahan dan dendam kepada kaum muslimin, tetapi mereka tidak mau itu telah sesuai dengan tindakan mereka atau tidak sesuai.

Pada akhir ayat ini Allah SWT memperingatkan kaum muslim yang mau menggunakan pikirannya agar merenungkan peristiwa itu, dan mengambil pelajaran dari padanya Jika mereka merenungkan dan memikirkan dengan baik tentulah mereka akan berkesimpulan bahwa keputusan dan hukuman yang dijatuhkan kepada Bani Nadir itu adalah keputusan dan hukuman yang setimpal, bahkan dianggap ringan mengingat perbuatan dan tindakan yang telah mereka lakukan

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dialah Yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab) mereka adalah Bani Nadhir yang terdiri dari orang-orang Yahudi (dari kampung mereka) dari tempat-tempat tinggal mereka di Madinah (pada saat pengusiran pertama) yaitu sewaktu mereka diusir ke negeri Syam, dan terakhir mereka diusir ke tanah Khaibar oleh Khalifah Umar semasa ia menjabat sebagai khalifah.
(Kalian tidak mengira) hai orang-orang mukmin (bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa dapat mencegah mereka) lafal maani`atuhum adalah khabar dari anna (benteng-benteng mereka) menjadi fa`il dari lafal maani`atuhum; dan dengan keberadaannya maka lengkaplah pengertian khabar (dari Allah) yakni dari azab-Nya (maka Allah mendatangkan kepada mereka) hukuman dan azab-Nya (dari arah yang tidak mereka sangka-sangka) yakni dari pihak kaum mukminin yang hal ini tidak masuk ke dalam perhitungan mereka.
(Dan Allah melemparkan) maksudnya menanamkan (rasa takut ke dalam hati mereka) dapat dibaca ar-ru`ba atau ar-ru`uba, artinya rasa takut mati, karena pemimpin mereka bernama Ka`b bin Asyraf telah terbunuh mati (mereka memusnahkan) dapat dibaca yukharribuuna, dan kalau dibaca yukhribuuna berarti berasal dari lafal akhraba, artinya merusak (rumah-rumah mereka) untuk mengambil barang-barang yang dianggap berharga oleh mereka berupa kayu-kayu dan lain-lainnya (dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah hal itu untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan).
««•»»
It is He Who expelled those who disbelieved of the People of the Scripture, namely, the Jews of the Banū al-Nadīr, from their homelands, [from] their dwellings at Medina, at the first exile, that is, their exile to Syria, the last [exile] being their banishment to Khaybar by ‘Umar during his caliphate. You did not think, O believers, that they would go forth, and they thought that they would be protected (māni‘atuhum is the predicate of an, ‘that’) by their fortresses (husūnuhum, the agent of the verb [māni‘atuhum], with which the predication is completed) from God, from His chastisement. But God, His command and His chastisement, came at them from whence they had not reckoned, [from whence] had never occurred to them, from the part of the believers, and He cast terror (ru‘b or ru‘ub) into their hearts, by having their chief Ka‘b b. al-Ashraf slain, destroying [as they did] (read yukharribūna; or yukhribūna, [derived] from [4th form] akhraba) their houses, in order to take away with them what they valued of wood and so on, with their own hands and the hands of the believers. So take heed, O you who have eyes!
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 1][AYAT 3]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
2of24
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://al-quran.info/#59:2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar